MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN HEMATOLOGI ACQUIRED COAGULATION DISORDER

Koagulasi intravascular diseminata merupakan proses yang merubah darah dari keadaan cair menjadi beku seperti jell. Koagulasia dalah serangkaian komplek sreaksi  yang menyebabkan pengendalian perdarahan melalui pembentukan trombosit dan bekuan fibrin pada tempat cedera.  Angka kejadian koagulasi intravascular diseminata pnemumonia pada tahun 2007 mencatat prevelensi pneumonia pada anak 11,2%. Pneumonia merupakan penyebab kematian kedua setelah diare pada balita yaitu sebesar 15,5%.

Hemofilia adalah gangguan koagulasi yang disebabkan defisiensi kongenital faktor koagulasi di dalam darah. Penyakit ini diturunkan secara X linked recessive dan bermanifestasi sebagai perdarahan spontan seperti hemarthrosis, hematoma otot dan luka yang sulit berhenti. Hemofilia dibedakan menjadi tiga yaitu hemofilia A (defisiensi faktor VIII),  hemofilia B (defisiensi faktor IX) dan hemofilia C (defisiensi faktor XI) (Scott and Montgomery, 2011).

Hemofilia yang paling sering terjadi adalah hemofilia A dilanjutkan dengan B. Di berbagai negara yang sedang berkembang, prevalensi hemofilia  sebenarnya tidak diketahui karena keterbatasan fasilitas diagnosis, tetapi dari berbagai kejadian di negara berkembang, diperkirakan prevalensi terjadi pada 1 dari 10.000 untuk hemofilia A dan 1 dari 50.000 untuk hemofilia B dari setiap kelahiran laki – laki (Carcao et al., 2013). Menurut Ragni (2012) insiden hemofilia diperkirakan terjadi pada 1 dari 5000 untuk hemofilia A dan 1 dari 30.000 untuk hemofilia B dari setiap kelahiran laki-laki. Menurut  Stonebreaker (2010), prevalensi hemofiia A (per 100.000 laki-laki) bervariasi di tiap negara. Sebagai contoh, prevalensi yang dilaporkan pada awal tahun 1970 di United Kingdom sekitar 10 per 100.000 laki-laki sedangkan di United States sekitar 20 per 100.000 laki-laki. Tiga puluh tahun kemudian terjadi sebaliknya, prevalensi pada tahun 2006 di United States adalah 8 per 100.000 laki-laki sedangkan di United Kingdom adalah 20,7 per 100.000 laki-laki (Stonebreaker, 2010; Ragni, 2012; Carcao et al., 2013).

Di Indonesia sangat sedikit penderita hemofilia yang dilaporkan. Berdasarkan data tahun 2011, jumlah pasien hemofilia yang terdaftar di Indonesia

mencapai 1.388 pasien. Angka itu diperkirakan tidak mencerminkan jumlah penderita sebenarnya. Informasi di masyarakat yang masih minim mengenai  penyakit hemofilia membuat penderita hemofilia tidak langsung dapat terdeteksi (IZN, 2012). Menurut Carcau et al., prevalensi di negara berkembang tidak diketahui karena tidak tersedianya fasilitas diagnosis (Carcao et al., 2013).

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN HEMATOLOGI ACQUIRED COAGULATION DISORDER

Koagulasi intravascular diseminata merupakan proses yang merubah darah dari keadaan cair menjadi beku seperti jell. Koagulasia dalah serangkaian komplek sreaksi  yang menyebabkan pengendalian perdarahan melalui pembentukan trombosit dan bekuan fibrin pada tempat cedera.  Angka kejadian koagulasi intravascular diseminata pnemumonia pada tahun 2007 mencatat prevelensi pneumonia pada anak 11,2%. Pneumonia merupakan penyebab kematian kedua setelah diare pada balita yaitu sebesar 15,5%.

Hemofilia adalah gangguan koagulasi yang disebabkan defisiensi kongenital faktor koagulasi di dalam darah. Penyakit ini diturunkan secara X linked recessive dan bermanifestasi sebagai perdarahan spontan seperti hemarthrosis, hematoma otot dan luka yang sulit berhenti. Hemofilia dibedakan menjadi tiga yaitu hemofilia A (defisiensi faktor VIII),  hemofilia B (defisiensi faktor IX) dan hemofilia C (defisiensi faktor XI) (Scott and Montgomery, 2011).

Hemofilia yang paling sering terjadi adalah hemofilia A dilanjutkan dengan B. Di berbagai negara yang sedang berkembang, prevalensi hemofilia  sebenarnya tidak diketahui karena keterbatasan fasilitas diagnosis, tetapi dari berbagai kejadian di negara berkembang, diperkirakan prevalensi terjadi pada 1 dari 10.000 untuk hemofilia A dan 1 dari 50.000 untuk hemofilia B dari setiap kelahiran laki – laki (Carcao et al., 2013). Menurut Ragni (2012) insiden hemofilia diperkirakan terjadi pada 1 dari 5000 untuk hemofilia A dan 1 dari 30.000 untuk hemofilia B dari setiap kelahiran laki-laki. Menurut  Stonebreaker (2010), prevalensi hemofiia A (per 100.000 laki-laki) bervariasi di tiap negara. Sebagai contoh, prevalensi yang dilaporkan pada awal tahun 1970 di United Kingdom sekitar 10 per 100.000 laki-laki sedangkan di United States sekitar 20 per 100.000 laki-laki. Tiga puluh tahun kemudian terjadi sebaliknya, prevalensi pada tahun 2006 di United States adalah 8 per 100.000 laki-laki sedangkan di United Kingdom adalah 20,7 per 100.000 laki-laki (Stonebreaker, 2010; Ragni, 2012; Carcao et al., 2013).

Di Indonesia sangat sedikit penderita hemofilia yang dilaporkan. Berdasarkan data tahun 2011, jumlah pasien hemofilia yang terdaftar di Indonesia

mencapai 1.388 pasien. Angka itu diperkirakan tidak mencerminkan jumlah penderita sebenarnya. Informasi di masyarakat yang masih minim mengenai  penyakit hemofilia membuat penderita hemofilia tidak langsung dapat terdeteksi (IZN, 2012). Menurut Carcau et al., prevalensi di negara berkembang tidak diketahui karena tidak tersedianya fasilitas diagnosis (Carcao et al., 2013).

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai